Trump dan Zelenskyy Bentrok di Gedung Putih: Isu Rudal Tomahawk dan Tekanan Rusia Panaskan Hubungan AS–Ukraina

Pertemuan tegang antara Donald Trump dan Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih membahas rudal Tomahawk dan tekanan Rusia. Trump dorong Ukraina serahkan Donbas demi akhir perang — dunia menanti hasil diplomasi kontroversial ini.

Trump dan Zelenskyy Bentrok di Gedung Putih: Isu Rudal Tomahawk dan Tekanan Rusia Panaskan Hubungan AS–Ukraina

Washington D.C., 17 Oktober 2025 — Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih berlangsung tegang. Agenda utama membahas kemungkinan pemberian rudal jelajah jarak jauh Tomahawk untuk membantu Ukraina melawan agresi Rusia. Namun, hasil pertemuan itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Menurut laporan Financial Times, suasana pertemuan berubah panas hingga terjadi “shouting match” di mana Trump disebut “sering mengumpat” dan menekan Zelenskyy agar menerima syarat damai versi Rusia, yaitu menyerahkan seluruh wilayah Donbas — pusat konflik berdarah di Ukraina Timur.

Trump menyatakan kepada wartawan dalam perjalanan menggunakan Air Force One:

“Sekitar 78% wilayah Donbas sudah diambil oleh Rusia. Sudah cukup. Hentikan perang di garis pertempuran saat ini dan pulanglah.”

Lebih mengejutkan lagi, Trump mengungkap bahwa ia telah berbicara lama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sehari sebelumnya. Dalam percakapan itu, Putin memperingatkan akan “menghancurkan Ukraina” jika Kiev menolak kesepakatan. Trump dan Putin disebut sepakat untuk mengadakan pertemuan langsung di Hungaria, yang kemungkinan juga akan mengundang Zelenskyy.

Meski meninggalkan Gedung Putih tanpa kepastian terkait rudal Tomahawk, Zelenskyy tetap berusaha optimistis. Dalam wawancara dengan NBC News, ia mengatakan:

“Trump belum mengatakan ‘ya’, tapi juga tidak mengatakan ‘tidak’. Kami tidak kalah, dan Putin belum menang.”

Trump di sisi lain menyebut pertemuannya dengan Zelenskyy “menarik dan bersahabat”, namun menegaskan lewat postingan di Truth Social bahwa saatnya kedua pihak mengakhiri perang.

“Biarkan keduanya mengklaim kemenangan, biar sejarah yang memutuskan,” tulisnya.

Namun para analis memperingatkan bahwa Trump tampak semakin condong pada pendekatan yang menguntungkan Rusia. Nina Khrushcheva, profesor urusan internasional di The New School, mengatakan kepada CNBC bahwa Trump “tidak sepenuhnya berpihak”, melainkan memainkan kedua sisi untuk mendapatkan keuntungan politik.

Sementara itu, Michael O’Hanlon dari Brookings Institution menilai langkah Trump terlalu fokus pada rudal Tomahawk dan hubungan pribadinya dengan Putin.

“Jika Trump benar-benar ingin menekan Rusia, ia perlu menambah tekanan ekonomi dan memperkuat dukungan militer untuk Ukraina,” ujarnya.

Dengan hubungan diplomatik yang semakin rumit dan ancaman perang yang belum reda, dunia kini menantikan apakah “kesepakatan damai gaya Trump” benar-benar bisa mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun — atau justru memperpanjang penderitaan di Eropa Timur.

Share

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0